Senin, 03 Mei 2010

Mampukah Solo melestarikan Andong Beserta Jalurnya
Oleh
Darmawan Budi Suseno *
Setelah warga solo disuguhi dengan pembangunan city walk,maupun dioperasikannya kembali sepur klutuk Jala dara. Lantas apalagi ? demikian kira-kira pertanyaan warga solo, menunggu kebijakan baru berkaitan pembanguan transportasi kotanya.
Mencermati, dua program “perhubungan” tersebut, kiranya ada dua hal yang perlu dicatat. Bahwa: Pertama, Kebijakan tersebut berkaitan dengan sarana dan prasarana transportasi hiburan. Kedua Fungsionalisasi sarana dan prasarana transportasi tersebut dimaksudkan untuk memperkuat identitas kepariwisataan kota solo. Maka menurut hemat penulis, setelah citi walk dan sepur klutuk tersebut, andong perlu direvitalisasi keberadaanya. Agar keberadaanya juga mempunyai fungsi yang sama dengan dua ikon yang diluncurkan sebelumnya.
Revitalisasi tersebut tentunya berkenaan dengan dua hal, pertama berkaitan dengan jumlah armada andong serta kusirnya. Dan yang juga tidak kalah penting adalah mengatur jalur andong itu sendiri. Selayaknya citi walk dan sepur klutuk yang keduanya menggunakan jalan Slamet Riyadi menjadi jalur utamanya. Mengapa demikian ? karena sangat mungkin dari segi jumlah armadanya, jumlah Andong masih lumayan, terutama didaerah pinggiran. Akan tetapi mungkin jumlah pastinya tidak bisa diketahui.Dan dapat dipastikan pasti jumlah itu tidak semakin bertambah akan tetapi semakin berkurana. Untuk itu perlu penghitungan resmi berkaitan dengan jumlah armada andong serta kusir, dari sebuah lembaga yang berkompeten mengursuinya.Karena sekali lagi demi kepentingan pelestarian sekaligus eksistesinya bagi para pelakunya.
Hal kedua yang tidak kalah urgen, yang sekaligus menjadi keprihatinan adalah masalah jalur atau rute pasti andong. Dimanakah jalur andong selama ini ? Pertanyaan ini pernah penulis lontarkan kepada beberapa kusir. Mereka rata-rata menjawab, bahwa jalur andong kini “ sampun ambyar” atau tak pasti, tergantung permintaan penumpangya saja. Tentu ini menjadi sebuah tantanan kalau tidak dikatakan problem. Meski secara kasat mata masih kita jumpai andong yang ngetem di stasiun balapan, juga dibeberapa pasar trasional disekitar solo, akan tetapi mereka seolah menanti penumpang yang tidak pasti.
Karena bagaimanapun Andong adalah Sebuah alat transportasi yang sangat unik dan identik dengan kota Solo, disamping jogja. Meski di wilayah lain ada dokar, bendi, delman ataupun alat tranportasi berkuda lainya, tentu berbeda dengan andong yang banyak mempunyai ciri khas . Andong, bisa dikatakan satu-satunya alat transportasi berkuda di Indonesia yang memiliki roda empat dan bentuknya lebih besar dari alat transport berkuda lainya.Meskipun mempunayi atap andong namun mempunyai space terbuka yang luas, ini tentu sangat layak untuk dijadikan kendaraan santai menikmati udara segar kota solo. Kota yang meruapakan simbol utama budaya Jawa.
Jika boleh membandingkan, bentuk andongpun antara Jogja dan solo juga berbeda. Bentuk andong kota Solo lebih besar bila dibandingkan dengan andong joga, dan tentu lebih bisa memuat penumpang dengan jumlah lebih banyak.Disisi lain Penulis menduga bahwa awal mula keberadaan andong tersebut pasti berhubungan erat dengan adanya keraton Solo. Karena hanya kota yang memiliki keraton saja yang punya nadong. Anehnya sekarang mulai jarang kita temui dikota solo, sementara kota Jogja bisa dikatakan upaya perlindungan terhadap andong terlihat lebih serius, hal ini tentu semakin memperkuat ikon pariwisatanya.Lihatlah misalnya jalur andong yang lalu lalang dari Kota Gede sampai Maliboro. Belum lagi kebijakan yang mengharuskan sang kusir berpakain adat jawa (minimal memakai blangkon). Tentu layak dicontoh.
Problem muncul manakala ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa andong adalah alat tradisionil yang gerakannya tidak lincah, yang sudah ketinggalan jaman, salah salah justru membiki lalu lintas macet. Belum lagi kotoran kudannya yang menjijikkan. Memang pendapat ini tidak ada salahya. Namun, kesadaran akan uniksitas andong tersebut sesungguhnya yang harus ditonjolkan. Sehingga dapat dicreat sedemikian rupa, menjad alat transportasi yang mempunyai nilai beda dari kota lain. Karena para wisatawan (teruatama wisman) ketika berkunjung di sebuah tempat, salah satunya tentu mencari hal- hal tradisional dan “udik” yang negaranya tidak ditemui, termasuk alat transport yang ditarik dengan satu atau dua kuda ini.
Berkaitan dengan kotoran kuda, tentu bisa dicariakn solusinya. Bentuk tadah terbuka yang dulu dipasang para kusir dibelakang pantat kudanya, mungkin belum efektif, karena masih terlihat langsung oleh mata, masih terkesan kotor dan menebar aroma tak sedap.Sehingga tak urung kotoran kuda tetap menjadi pandangan tak sedap dijalur yang dilewatinya. Sekarang hal tersebut bisa disiati dengan bentuk tadah kotoran dengan bentuk kotak tertutup. Bentuk seperti kotak besar tersebut kemudian ada saluran dari lobang pantat kuda sampai kotak tersebut, layaknya septitank kecil yang dipasang di bagian depan andong.
Lantas berkaitan dengan jalur andong. Saat ini, sangat mungkin karena ketidak jelasan jalur, justru akan menimbulkan masalah.Dengan trayek “semaunya” justru membuka front persaingan andong dengan alat traportasi modern lainya. Dan sudah bisa ditebak endingya kalau dibiarkan begitu saja pasti alat transport tradisonilah yang kalah. Bisa jadi suatu saat agar tidak kalah dengan taksi, andongpun akan memeiliki argo . Hehe
Untuk itu menurut hemat penulis, demi kepentingan pelestarian dan untuk memperkuat ikon wisata, perlu kiranya diberlakukannya jalur khusus andong, layaknya City walk dan sepur klutuk Jaladara. Dengan demikian para wisatawan, penggemar, pengguna jasa transportasi ini akan dengan sendirinya terkondisikan bahwa jalur tersebut memang diperuntukan khusus bagi Andong. Pemkot bisa saja membuat peraturan tentang rute wajib tesebut dengan mengambil salah satu jalur yang paling layak untuk andong. Agar dikemudian hari, anak cucu kita tetap bisa menikmati andong sebagai kendaraan tradisionil yang dimilki kota solo the spirit of Java.Anak-anak Tidak hanya mengenal bendi mini yang selama ini dioperasikan mengitari stadion Manahan, masarakat tidak hanya mengenal dan mengggunakan citi walk dan sepur klutuk saja akan tetapi juga tetap naik andong sebagai warisan leluhurnya.
*) Penulis adalah dosen Komunikasi Bisnis Akademi Widya Buana Semarang, Tinggal di Kota Solo.

Mampukah Solo Melestarikan Andong Beserta Jalurnya?